<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ardextro Zone</title>
	<atom:link href="http://ardextro.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ardextro.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 10 May 2008 01:29:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ardextro.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ardextro Zone</title>
		<link>http://ardextro.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ardextro.wordpress.com/osd.xml" title="Ardextro Zone" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ardextro.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ketika Cinta Berbuah Surga</title>
		<link>http://ardextro.wordpress.com/2008/05/08/ketika-cinta-berbuah-surga/</link>
		<comments>http://ardextro.wordpress.com/2008/05/08/ketika-cinta-berbuah-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 03:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardextro</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Habiburrahman El Shirazy]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardextro.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Di tanah Kurdistan , ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki seorang anak laki-laki yang tampan, cerdas, dan pemberani. Saat-saat paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika dia mengajari anaknya itu membaca Al-Quran. Sang raja juga menceritakan kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=22&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Di tanah Kurdistan , ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki seorang anak laki-laki yang tampan, cerdas, dan pemberani.</span><span> </span><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Saat-saat paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika dia</span><span> </span><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">mengajari anaknya itu membaca Al-Quran. Sang raja juga menceritakan</span><span> </span><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di</span><span> </span><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">medan</span><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;"> pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, sangat gembira</span><span> </span><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">mendengar penuturan kisah ayahnya. Si kecil Said akan merasa jengkel</span><span> </span><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">jika di tengah-tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada orang yang</span><span> </span><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">memutuskannya. </span><span id="more-22"></span><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;"> </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Terkadang, ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya tiba-tiba</span><span> </span><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">pengawal masuk dan memberitahukan ada tamu penting yang harus ditemui oleh raja. Sang raja tahu apa yang dirasakan anaknya.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Maka, dia memberi nasihat kepada anaknya, “Said, Anakku, sudah saatnya kamu mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Said tersentak mendengar perkataan ayahnya. “Apa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada penasaran.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tatapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaiumu karena Allah. Dan Dengan dasar itu kau pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuaan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga.”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Bagaimana cara mencari teman seperti itu, Ayah?” tanya Said.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Sang raja menjawab, “Kamu harus menguji orang yang hendak kau jadikan teman. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapapun yang kau anggap cocok menjadi temanmu untuk makan pagi di sini, di rumah kita. Jika sudah sampai di sini, ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar. Lihatlah kemudian apa yang mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga buitr telur. Jika dia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syukur jika kau bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu.”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Said sangat gembira mendengar nasihat ayahnya. Dia pun mempraktekkan cara mencari teman sejati yang cukup aneh itu. Mula-mula ia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu per satu. Sebagian besar dari mereka marah- marah karena hidangnya tidak keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang memukul-mukul meja, ada yang melontarkan kata-kata tidak terpuji, memaki-maki karena terlalu lama menunggu hidangan.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Diantara teman anak raja itu, ada seorang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Melihat itu, Adil berkata keras, “Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Adil tidak mau menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meniggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejati.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Hari berikutnya, dia mengundang anak seorang saudagar terkaya. Tentu saja anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi dari anak raja. Malam harinya, sengaja ia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan makanan anak raja pasti enak dan lezat.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia menunggu waktu yang lama sampai makanan keluar. Akhirnya, Said membawa piring dengan tiga telur rebus di atasnya.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Ini makanannya, saya ke dalam dulu mengambil air minum.” Kata Said seraya meletakkkan piring itu di atas meja.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span style="position:absolute;z-index:-3;left:0;margin-left:41px;margin-top:1084px;width:754px;height:2px;"><img src="/DOCUME~1/EZHAKO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="" width="754" height="2" /></span><!--[endif]--><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span style="position:absolute;z-index:-2;left:0;margin-left:41px;margin-top:48px;width:754px;height:2px;"><img src="/DOCUME~1/EZHAKO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="" width="754" height="2" /></span><!--[endif]--><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Lalu, Said masuk kedalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung malahap satu persatu telur itu. Tidak lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke arah meja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Ia kaget.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Mana telurnya?” tanya Said pada anak saudagar.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Telah aku makan.”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Semuanya?”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Ya, habis aku lapar sekali.”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Melihat hal itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak setia. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, Said juga belum makan apa-apa.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Said merasa jengkel kapada anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Akhirnya, Said meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">****</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Akhirnya, Said berpikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan, ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana. Anak itu sedang memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di gubuknya. Rumah dan pakaian anak itu menunjukkan bahwa dia sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu, lalu shalat dua rakaat. Said memerhatikannya dari balik rumpun pepohonan.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Selesai salat, Said datang dan menyapa, “Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Kau tadi shalat apa?”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Namaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha.”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Lalu, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Namun, Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak orang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Said menyahut, “Tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku? Kau nanti bisa menilai, apakah aku cocok atau tidak menjadi temanmu.”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Baiklah kalau begitu, kita berteman. Akan tetapi, dengan syarat hak dan kewajiban kita sama, sebagai teman yang seia-sekata.”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Said menyepakati syarat yag diajukkan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama; pergi ke hutan bersama ,memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubuknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya, sepotong roti, garam, dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Oleh karena itu, Said merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Selesai makan, Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak menemukan hal-hal baru di hutan, yang tidak dia dapatkan di dalam istana. Oleh temannya itu dia diajari untuk mengenali dan membedakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang bisa dimakan, yang bisa dijadikan obat, serta yang beracun.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Dengan mengenal jenis buah dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat. Persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti yang ada di ibukota kerajaan ilmu ada di</span><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span style="position:absolute;z-index:-1;left:0;margin-left:41px;margin-top:48px;width:754px;height:2px;"><img src="/DOCUME~1/EZHAKO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="" width="754" height="2" /></span><!--[endif]--><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">mana-mana. Bahkan, di hutan sekalipun. Hari itu, Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya itu.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Pergilah ke ibu kota , berikan kertas ini kepada tentara yang kau temui di sana . Dia akan mengantarkanmu ke rumahku,” kata Said sambil tersenyum.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">“Insya Alloh aku akan datang.” Jawab anak pencari kayu itu.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">*****</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Pagi harinya, anak pencari kayu sampai juga di istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja. Mulanya, dia ragu untuk masuk istana. Akan tetapi, jika mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia berani masuk juga.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Said menyambutnya dengan hangat dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang makan itu. Said pun menguji temannya<span> </span>ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu itu sudah terbiasa lapar. Bahkan, dia pernah tidak makan selama tiga hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja. Dia hanya berpikir, seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tentram.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Selama ini, dia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang anak raja yang santun dan shalih.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Akhirnya, tiga butir telur masak pun dihidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu bakar itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Lalu dengan sengaja Said mengambil yang ketiga, mengupasnya dengan cepat dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebitur telur itu, apakah akan dimakannya sendiri ?</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu, dia membelah telur itu jadi dua. Yang satu dia pegang dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Lalu Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata. “Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.”</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan meraka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Alloh swt.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Karena kekuatan cinta itu mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama yang tersebar di Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Setelah berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang adil, ayah Said meninggal dunia. Akhirnya, Said diangkat menjadi raja untuk menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering malakukan shalat tahajud dan membaca Al-Quran bersama. Kecerdasaan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur, dan jaya.&#8212;</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.&#8212;</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;letter-spacing:0.05pt;">Dikutip dari sebuah karya Habiburrahman El Shirazy</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="letter-spacing:0.05pt;"><span></span></span><span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ardextro.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ardextro.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardextro.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardextro.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardextro.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardextro.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardextro.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardextro.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardextro.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardextro.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardextro.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardextro.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardextro.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardextro.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardextro.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardextro.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=22&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardextro.wordpress.com/2008/05/08/ketika-cinta-berbuah-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/63bdd00b0076989e8402f6e6e6e42854?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ardextro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/EZHAKO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/EZHAKO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/EZHAKO~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit Dan Obat Pada Sayap Lalat</title>
		<link>http://ardextro.wordpress.com/2008/05/03/penyakit-dan-obat-pada-sayap-lalat/</link>
		<comments>http://ardextro.wordpress.com/2008/05/03/penyakit-dan-obat-pada-sayap-lalat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 11:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardextro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[lalat]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardextro.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang kalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obatnya (HR. Bukhari, Ibn Majah, dan Ahmad) Dalam riwayat lain: &#8220;Sungguh pada salah satu sayap lalat ada racun dan pada sayap lainnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=19&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah SAW bersabda,<br />
<strong><em> &#8220;Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang kalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obatnya</em></strong> (HR. Bukhari, Ibn Majah, dan Ahmad)<span id="more-19"></span></p>
<p>Dalam riwayat lain: &#8220;Sungguh pada salah satu sayap lalat ada racun dan pada sayap lainnya obat, maka apabila ia mengenai makananmu maka perhatikanlah lalat itu ketika hinggap di makananmu, sebab ia mendahulukan racunnya dan mengakhirkan obatnya&#8221; (HR. Ahmad, Ibn Majah)</p>
<p>Diantara mu&#8217;jizat kenabian Rasulullah dari aspek kedokteran yang harus ditulis dengan tinta emas oleh sejarah kedokteran adalah alat pembuat sakit dan alat pembuat obat pada kedua sayap lalat sudah beliau ungapkan 14 abad sebelum dunia kedokteran berbicara. Dan penyebutan lalat pada hadits itu adalah bahwa air tetap suci dan bersih jika dihinggapi lalat yang membawa bakteri penyebab sakit kemudian kita celupkan lalat tersebut agar sayap pembawa obat (penawarnya) pun tercelup ke air.</p>
<p>Dan percobaan ilmiah kontemporer pun sudah dilakukan untuk mengungkapkan rahasia di balik hadits ini. Bahwasannya ada kekhususan pada salah salah satu sayapnya yang sekaligus menjadi penawar atau obat terhadap bakteri yang berada pada sayap lainnya. Oleh karena itu, apabila seekor lalat dicelupkan ke dalam air keseluruhan badannya, maka bakteri yang ada padanya akan mati, dan hal ini cukup untuk menggagalkan &#8220;usaha lalat&#8221; dalam meracuni manusia, sebagaimana hal ini pun telah juga ditegaskan secara ilmiah. Yaitu bahwa lalat memproduksi zat sejenis enzim yang sangat kecil yang dinamakan Bakter Yofaj, yaitu tempat tubuhnya bakteri. Dan tempat ini menjadi tumbuhnya bakteri pembunuh dan bakteri penyembuh yang ukurannya sekitar 20:25 mili mikron. Maka jika seekor lalat mengenai makanan atau minuman, maka harus dicelupkan keseluruhan badan lalat tersebut agar keluar zat penawar bakteri tersebut. Maka pengetahuan ini sudah dikemukakan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan gambaran yang menakjubkan bagi siapapun yang menolak hadits tentang lalat tersebut.</p>
<p>Dan Dr. Amin Ridha, Dosen Penyakit Tulang di Jurusan Kedokteran Univ. Iskandariyah, telah melakukan penelitian tentang &#8220;hadits lalat ini&#8221; dan menegaskan bahwa di dalam rujukan-rujukan kedokteran masa silam ada penjelasan tentang berbagai penyakit yang disebabkan oleh lalat. Dan di zaman sekarang, para pakar penyakit yang mereka hidup berpuluh-puluh tahun, baru bisa mengungkap rahasia ini, padahal sudah dibongkar informasinya sejak dahulu. Yaitu kurang lebih 30-an tahun yang lalu mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri obat berbagai penyakit yang sudah kronis dan pembusukan yang sudah menahun adalah dengan lalat.</p>
<p>Berdasarkan hal ini, jelaslah bahwa ilmu pengetahuan dalam perkembangannya telah menegaskan penjelasannya dalam terori ilmiah sesuai dengan hadits yang mulia ini. Dan mukjizat ini sudah dikemukakan semenjak dahulu kala, 14 abad yang silam sebelum para pakar kedokteran mengungkapkannya baru-baru ini. ( www.islamicmedicine.org )<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>http://www.geocities.com/the_fact99/</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ardextro.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ardextro.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardextro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardextro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardextro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardextro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardextro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardextro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardextro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardextro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardextro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardextro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardextro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardextro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardextro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardextro.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=19&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardextro.wordpress.com/2008/05/03/penyakit-dan-obat-pada-sayap-lalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/63bdd00b0076989e8402f6e6e6e42854?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ardextro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenang Akhlak Nabi Muhammad SAW</title>
		<link>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/22/mengenang-akhlak-nabi-muhammad-saw/</link>
		<comments>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/22/mengenang-akhlak-nabi-muhammad-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 02:05:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardextro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardextro.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya dan tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad !”. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=17&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya dan tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad !”. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib. <span id="more-17"></span></p>
<p>Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, “Ceritakan padaku keindahan dunia ini!.” Badui ini menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini…” Ali menjawab, “Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)</p>
<p>Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa “Khumairah” oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun[23]: 1-11.</p>
<p>Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.</p>
<p>Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab, “ah semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’” Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.<br />
Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di sini ?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita ? Nabi mengingatkan, “berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.” Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.</p>
<p>Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.</p>
<p>Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.</p>
<p>Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, “Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan.”</p>
<p>Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”<br />
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.</p>
<p>Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan “Wahai Nabi”. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.<br />
Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin.” Kata Umar, “Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.” Abu Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya ingin membantah aku saja,” Umar menjawab, “Aku tidak bermaksud membantahmu.” Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)</p>
<p>Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, “Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.” Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi.</p>
<p>Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi, “Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami”<br />
Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” “Sudah.” kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.</p>
<p>Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendegarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah !</p>
<p>Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya N abi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.” Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.</p>
<p>Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!” Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisa di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap “membereskan” orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.</p>
<p>Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, “lakukanlah!” Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.” Seketika itu juga terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.</p>
<p>Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na’udzu billah…</p>
<p>Nabi Muhammad ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?” Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah…?” Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “benar ya Rasul !”.</p>
<p>Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah!”. Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah.”Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah… Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah”</p>
<p>[oleh : Nadirsyah Hosen - Dewan Asaatiz Pesantren Virtual]<br />
http://media.isnet.org/islam/Etc/AkhlakNabi.html<br />
sumber : http://labbaik.wordpress.com/2007/12/29/mengenang-akhlak-nabi-muhammad-saw/</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ardextro.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ardextro.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardextro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardextro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardextro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardextro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardextro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardextro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardextro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardextro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardextro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardextro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardextro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardextro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardextro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardextro.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=17&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/22/mengenang-akhlak-nabi-muhammad-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/63bdd00b0076989e8402f6e6e6e42854?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ardextro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DOOR DUITERNIS ( Habis Gelap Terbitlah Terang )</title>
		<link>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/18/door-duiternis-habis-gelap-terbitlah-terang/</link>
		<comments>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/18/door-duiternis-habis-gelap-terbitlah-terang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 12:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardextro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardextro.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Tinta Sejarah Belum Lagi kering menulis namanya, namun wanita-wanita negerinya sdh terbata-bata membaca cita-citanya. Tujuh tahun yg lalu namanya kembali mencuat ke permukaan setelah seorang sejarawan Indonesia mempermasalahkan gelar kepahlawanannya. Lepas dari kaitan itu kita tak perlu mempermasalahkan dia benar atau salah atau pantaskah ia mendapat gelar pahlawan atau tdk, yg pasti sejarah hrs diungkapkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=13&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://ardextro.files.wordpress.com/2008/04/kartini.jpg?w=90&#038;h=98" alt="" width="90" height="98" /></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Tinta Sejarah Belum Lagi kering menulis namanya, namun wanita-wanita negerinya sdh terbata-bata membaca cita-citanya. Tujuh tahun yg lalu namanya kembali mencuat ke permukaan setelah seorang sejarawan Indonesia mempermasalahkan gelar kepahlawanannya. Lepas dari kaitan itu kita tak perlu mempermasalahkan dia benar atau salah atau pantaskah ia mendapat gelar pahlawan atau tdk, yg pasti sejarah hrs diungkapkan baik dan buruknya &amp; terserah kpd pendengar sejarah utk menilai dan berinterpretasi thd sejarah tsb.</span></span></p>
<p><span id="more-13"></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Kartini tdk dapat diartikan lain kecuali sesuai dgn apa yg tersirat dlm kumpulan suratnya; &#8220;</span></span><strong> <span style="font-family:Verdana;"><span>DOOR DUISTERNIS TOT LICHT</span></span></strong><span style="font-family:Verdana;"><span> &#8220;, yg terlanjur diartikan oleh Armijn Pane sbg, &#8221; Habis Gelap Terbitlah Terang &#8220;. Sedangkan Prof. Dr. Haryati Soebadio, Dirjen Kebudayaan Depdikbud, yg notabene cucu RA Kartini mengartikannya sbg &#8221; dari Gelap Menuju Cahaya &#8220;, yg kalau kita lihat dalam Al Qur&#8217;an akan tertulis sbg,</span></span><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>&#8221; Minadzhdzhulumati Ilaan Nuur &#8220;.</span></span></em> <span style="font-family:Verdana;"><span>Ini merupakan inti ajaran Islam yg membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya (iman).</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Kartini ada dlm proses kegelapan menuju cahaya, tapi cahaya itu belum sempurna menyinari krn terhalang oleh usaha</span></span><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>westernisasi .</span></span></em> <span style="font-family:Verdana;"><span>Kartini yg dikukung oleh adat dan dituntun oleh Barat telah mencoba meretas jalan menuju ke tempat yg terang. Dan apakah yg kita lakukan kini merupakan langkah-langkah maju ataukah surut ke belakang&#8230;?</span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:Verdana;"><span>KARTINI : &#8220;&#8230;.IBU ADALAH SEKOLAH BAGI ANAK-ANAKNYA&#8221;</span></span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Berapa banyak dewasa ini jabatan dan kedudukan penting yg pada mulanya dipegang oleh kaum pria kini dipegang oleh kaum wanita. Berapa banyak pula jumlah pekerjaan yg dimasuki oleh kaum wanita sehingga banyak kaum pria yg hrs kehilangan pekerjaannya.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Seorang wanita sekalipun tdk bekerja maka ia tdk akan kehilangan nafkahnya, krn ia hidup dari tanggungan hidup suaminya. Tapi apa artinya jika seorang pria kehilangan pekerjaannya..? Maka mulut yg ada dibelakangnya, yaitumulut istri dan anak-anaknya akan tetap menganga menanti kehadirannya, mengharapkan sesuatu yg dibawanya. Apa jadinya negeri ini jika kaum prianya menganggur ? Kalau bukan petaka, tentu paling tdk negeri ini menjadi &#8221; Lembah Amazone &#8220;.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Padahal wanita lebih diperlukan sbg</span></span><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>&#8220;sekolah&#8221;</span></span></em> <span style="font-family:Verdana;"><span>bagi anak-anaknya. Dan bukan sbg kuda beban atau ayam-ayam pengais yg tertatih-tatih dan tersuruk-suruk  menanggalkan pribadinya yg asli. Kartini tdk pernah mengimpikan wanita-wanita sesudah generasinya menjadi bebas tanpa kendali atau merebut hak lelaki hingga mengingkari fitrahnya.</span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:Verdana;"><span>SURAT KEPADA STELLA</span></span></strong><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span>(tertanggal 18 Agustus 1899)</span></span></p>
<p><em><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8221; Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku hrs merangkak, bila hendak berlalu dihadapanku. kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, hrslah ia turun duduk di tanah dengan menundukkan kepala sampai aku tak terlihat lagi. Mereka hanya boleh menegurku dgn bahasa kromo inggil. Tiap kalimat haruslah diakhiri dgn &#8220;sembah&#8221;. Berdiri bulu kuduk, bila kita berada dlm lingkungan keluarga Bumiputera yg ningrat. Bercakap-cakap dgn orang lain yg lebih tinggi derajatnya haruslah perlahan-lahan, jalannya langkah-langkah pendek-pendek, gerakannya lambat-lambat spt siput. Bila berjalan cepat dicaci orang, disebut sbg kuda liar. Peduli apa aku dgn segala tata cara itu&#8230;..Segala peraturan itu buatan manusia dan menyiksa diriku saja. Kamu tdk dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket keningratan di dunia Jawa itu&#8230;.</span></span></em></p>
<p><em><span style="font-family:Verdana;"><span>Tapi sekarang mulai dgn aku, antara kami (kartini, Roekmini dan Kardinah) tdk ada tatacara itu lagi. Perasaan kami sendirilah yg akan menunjukkan atau menentukan sampai batas mana cara Liberal itu boleh dijalankan.</span></span></em></p>
<p><em><span style="font-family:Verdana;"><span>Bagi saya hanya ada dua macam keningratan, keningratan pikiran (fikroh), dan keningratan budi (akhlaq). Tdk ada manusia yg lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat org membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sdh beramal sholeh org yg bergelar macam Graaf atau Baron..? Tidaklah dapat dimengerti oleh pikiranku yg picik ini,..&#8221;</span></span></em></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Sebelum kita melanjutkan surat-surat Kartini yg lain ada baiknya kita melihat sahabat pena Kartini yg merupakan musuh-musuh dlm selimut yg berusaha mempengaruhi Kartini dgn cara dan pahamnya masing-masing.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Mereka itu adalah :</span></span></p>
<p><em><span style="font-family:Verdana;"><span>1.  Mr. J.H Abendanon</span></span></em><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span> Datang ke Hindia tahun 1900. Ditus oleh pemerintah Belanda utk melaksanakan politik Ethis. Tugasnya adalah sbg Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Karena masih baru ia meminta nasehat teman sehaluan politiknya yaitu Snouck Hurgronje. Snouck memiliki konsepsi politik Asosiasi, menurutnya memasukkan peradaban BArat dlm masyarakat pribumi adalah cara yg paling ampuh utk membendung dan mengatasi Islam di Hindia Belanda. Tapi tdk mungkin mempengaruhi rakyat sebelum kaum ningratnya dibaratkan akan semakin mudah membaratkan rakyat Bumi putera. Untuk itu maka langkah pertama yg hrs diambil adalah mencari orang-orang ningrat yg Islamnya tdk teguh lalu dibaratkan. Dan pilihan pertama adalah Kartini.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>2. </span></span><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>Annie Glassor</span></span></em><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span> Seorang guru yg mempunyai akte bahasa dan mengajar secara privat bahasa Perancis kpd Kartini. Annie Glasser dikirim oleh Abendanon utk memata-matai dan mengikuti perkembangan Kartini. Melalui Annie Glasser-lah Abendanon mendidik, mempengaruhi dan menjatuhkan Kartini.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>3. </span></span><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>Stella (Estalle Zeehandelaar)</span></span></em><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span> Sewaktu dlm masa pingitan (</span></span><span style="text-decoration:underline;"> <span style="font-family:Verdana;"><span>+</span></span></span><span style="font-family:Verdana;"><span> 4 tahun ) Kartini banyak membaca utk menghabiskan menghabiskan waktunya. Tetapi Kartini tdk puas mengikuti perkembangan pergerakan wanita di Eropa hanya melalui majalah &amp; buku-buku. Krn ingin mengetahui keadaan sesungguhnya maka Kartini memasang iklan disebuah majalah negeri Belanda, yaitu Hollandsche Lelie. Dgn segera iklan itu disambut oleh Stella, wanita Yahudi anggota pergerakan Feminis di Belanda yg bersahabat karib dgn gembong Sosialis, Ir H. VAn Kol.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>4. Ir H Van Kol</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span> Pernah tinggal di Hindia Belanda selama 16 tahun. Ia berkenalan dgn Kartini dan berusaha memperjuangkan Kartini agar dpt pergi ke Belanda atas biaya pemerintah Tinggi Belanda. Tapi rupanya ada udang di balik batu. Ia berharap dpt mengajak Kartini ke Belanda sbg saksi hidup tentang kebobrokan pemerintah Hindia Belanda di tanah jajahan. Melalui Kartini, Van Kol ingin mengungkapkan penyelewengan yg dilakukan para pejabat Hindia Belanda. Sehingga partai Sosialis, tempatnya bercokol, dpt berkuasa di parlemen &amp; menjatuhkan partai yg berkuasa.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>5.  Ny Van Kol (Nellie Van Kol)</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span> Seorang penulis berpendirian humanis dan progresif. Org yg paling berperan mendangkalkan aqidah Islamiah Kartini. Pada mulanya ia bermaksud menjadikan Kartini sbg seorang Kristen tapi gagal.  Mulanya ia berbuat seolah-olah sbg penolong yg mengangkat Kartini dari keadaan tdk mempedulikan agama menjadi penuh perhatian. Bahkan ia berhasil mengakhiri &#8220;<em>Gerakan mogok sholat dan mogok ngaji&#8221;</em></span></span> <span style="font-family:Verdana;"><span>yang dilakukan Kartini.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Kita buka kembali beberapa cuplikan surat Kartini yg sedikit membuka siapa dan mau apa ia.</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span>&#8220;&#8230;<em>Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi pula, dialah orang Eropa &#8221; (kepada Stella, 25 Mei 1899)</em></span></span></p>
<p><em><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8221; Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yg telah aku pilih &#8220;.</span></span></em> <span style="font-family:Verdana;"><span>(kepada Ny Ovinksoer, 1900)</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8220;</span></span><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>Sekarang kami merasakan badan kami lebih kokoh, segala sesuatu tampak lain sekarang. Sudah lama cahaya itu tumbuh dalam hati kami. Kami belum tahu waktu itu dan Ny Van Kol yg menyibak tabir yg tergantung dihadapan kami. Kami sangat berterimakasih kepadanya, &#8220;</span></span></em> <span style="font-family:Verdana;"><span>(kepada Ny Ovinksoer, 12 Juli 1902)</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8220;</span></span><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>Ny Van Kol banyak bercerita kepada kami tentang Yesus yg Tuan muliakan itu, tentang rasul-rasul Petrus dan Paulus, dan kami senang mendengar itu semua,&#8221;</span></span></em> <span style="font-family:Verdana;"><span>(kepada Dr Adriani, 5 Juli 1902)</span></span></p>
<p><em><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8221; Malaikat yg baik beterbangan disekeliling saya dan Bapak yg ada dilangit membantu saya dlm perjuangan saya dengan bapakku yg ada di dunia ini,&#8221;</span></span></em> <span style="font-family:Verdana;"><span>(kepada Ny Ovink Soer, 12 Juli 1902)</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Itulah beberapa surat yg Kartini layangkan kpd orang-orang yang menjadi &#8220;sahabat&#8221;nya, dan yg berkiblat kpd Kristen atau yg berusaha menggiringnya ke arah pemikiran Barat.</span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:Verdana;"><span>BERUSAHA MENJADI MUSLIMAH SEJATI</span></span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Kartini memiliki pengalaman yg tdk menyenangkan semasa belajar mengaji. Ibu guru mengajinya memarahi dia dan menyuruhnya keluar karena Kartini menanyakan makna ayat Al Qur&#8217;an yg dibacanya tadi.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Inilah suratnya kepada Stella tertanggal 6 November 1899 dan kepada Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902 ;</span></span></p>
<p><em><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8221; Mengenai agama Islam, Stella, aku hrs menceritakan apa. Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dgn umat agama lain. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tdk boleh memahaminya.</span></span></em></p>
<p><em><span style="font-family:Verdana;"><span>Al Qur&#8217;an terlalu suci, tdk boleh diterjemahkan ke dlm bahasa apapun. Di sini tdk ada yg mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur&#8217;an tetapi tdk mengerti apa yg dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tdk mengerti apa yg dibacanya. Sama saja halnya spt engkau mengajar aku membaca buku berbahasa Inggris, aku hrs menghafal kata demi kata, tetapi tdk satupun kata yg kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi soleh pun tdk apa-apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella..??</span></span></em></p>
<p><em><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8221; Dan waktu itu aku tdk mau lagi melakukan hal-hal yg aku tdk mengerti sedikitpun. Aku tdk mau lagi melakukan hal-hal yg aku tdk tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tdk mau lagi membaca Al Qur&#8217;an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan bahasa asing yg aku tdk mengerti apa artinya, dan jangan-jangan ustadz-ustadzahku pun tdk mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya nanti aku akan mempelajari apa saja.</span></span></em></p>
<p><em><span style="font-family:Verdana;"><span>Aku berdosa. Kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tdk boleh mengerti artinya.&#8221;.</span></span></em></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Sampai pada suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulan khusus utk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama Raden Ayu yg lain dari balik Khitab (tabir). Kartini tertarik kpd materi yg sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh</span></span><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>Kyai Saleh Darat</span></span></em><span style="font-family:Verdana;"><span>,</span></span> <span style="font-family:Verdana;"><span>ulama besar yg sering memberikan pengajian di beberapa kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai pengajian, KArtini mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya utk menemui</span></span><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>Kyai Saleh Darat</span></span></em><span style="font-family:Verdana;"><span>.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8220;<em> Kyai perkenankan saya menanyakan sesuatu, bagaimanakah hukumnya apabila seseorang yg berilmu namun menyembunyikan ilmunya..?</em></span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Tertegun sang Kyai mendengar pertanyaan Kartini yg diajukan secara diplomatis. Kyai Saleh Darat paham betul akan maksud pertanyaan yg diajukan Kartini krn sebelumnya pernah terlintas dalam pikirannya. (<em>Dialog ini dicatat oleh Ny. Fadillah Bc. Hk Cucu Kyai Saleh Darat)</em></span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Singkat cerita tergugahlah sang Kyai utk menterjemahkan Al Qur&#8217;an ke dlm bahasa Jawa. Dan ketika hari pernikahan Kartini tiba, Kyai Saleh Darat memberikan kepadanya terjemahan Al Qur&#8217;an juz pertama. Mulailah Kartini mempelajari Al Qur&#8217;an. Tapi sayang sebelum terjemahan itu rampung, Kyai Saleh Darat berpulang ke rahmatullah.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span> Dalam surat Al Baqarah Ayat 257, Kartini menemukaan kata-kata yg amat menyentuh nuraninya ;</span></span><br />
<strong><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8221;  Orang-orang yg beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya ( MInadzdzulumaati Ilaan Nuur ) &#8220;.</span></span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Kartini amat terkesan dgn ayat ini, krn ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran jahiliyah kpd pemikiran terbimbing oleh Nuur Ilahi. Dan sebelum wafatnya Kartini, dlm banyak suratnya mengulang kata-kata &#8220;</span></span><strong><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>Dari gelap menuju cahaya</span></span></em></strong> <span style="font-family:Verdana;"><span>&#8220;, yg ditulis dalam bahasa Belanda sbg</span></span><strong><em> <span style="font-family:Verdana;"><span>&#8221; Door Duisternis Toot Licht &#8220;.</span></span></em></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Yang kemudian dijadikan kumpulan surat Kartini oleh Abendanon yg sama sekali tdk mengetahui bahwa kata-kata itu dikutip dari AlQur&#8217;an. Ditambah lagi diterjemahkan sebagai &#8220;<em>Habis Gelap Terbitlah Terang</em>&#8221; oleh Armijn Pane.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Setelah pengajian tsb terjadilah perubahan besar dalam diri Kartini. Kini ia mulai memahami Islam. Coba simak beberapa suratnya lagi ;</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8220;<em> Sudah lewat masanya, tadinya mengira bhw masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yg paling baik tiada taranya, maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna..?? Dapatkah Ibu menyangkal bhw dibalik hal yg indah dlm masyarakat Ibu terdapat banyak hal yg sama sekali tdk patut dinamakan peradaban ?? &#8220;</em></span></span> <span style="font-family:Verdana;"><span>(kepada Ny Abendanon, 27 October 1902)</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8220;<em> Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kpd rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.bagi orang Islam, melepaskan kepercayaannya sendiri dan memeluk agama lain merupakan dosa yg sebesar-besarnya&#8230;&#8230;..pendek kata, boleh melakukan zending, tetapi janganlah meng-kristen-kan orang lain. Mungkinkah</em> itu dilakukan ? &#8221; (kepada E.C Abendanon, 31 january 1903)</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Memang kumpulan surat-surat Kartini bukanlah kitab suci. Tapi kalau kita telaah kembali maka akan nampaklah apa cita-citanya yg luhur.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Sayang itu semua sudah mengalami banyak deviasi sejak diluncurkan dahulu, setelah berlalu tiga generasi konsep Kartini tentang emansipasi semakin hari semakin hari jauh meninggalkan makna pencetusnya. Sekarang dgn mengatasnamakan Kartini para feminis justru berjalan dibawah bayang-bayang alam pemikiran Barat, suatu hal yg malah ditentang oleh Kartini. Bagaimana tanggapanmu wahai para wanita..??</span></span></p>
<p style="text-align:right;">(Sumber : http://www.mail-archive.com/islam@ssi1.ssi.global.sharp.co.jp/msg00699.html )</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ardextro.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ardextro.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardextro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardextro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardextro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardextro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardextro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardextro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardextro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardextro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardextro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardextro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardextro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardextro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardextro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardextro.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=13&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/18/door-duiternis-habis-gelap-terbitlah-terang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/63bdd00b0076989e8402f6e6e6e42854?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ardextro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardextro.files.wordpress.com/2008/04/kartini.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kartini Bukan &#8216;Pejuang Gender&#8217;</title>
		<link>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/18/kartini-bukan-pejuang-gender/</link>
		<comments>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/18/kartini-bukan-pejuang-gender/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 12:15:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardextro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardextro.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Aktivis perempuan sudah menobatkan R.A. Kartini sebagai pejuang emansipasi. Dia digambarkan sebagai sosok yang bersemangat memperjuangkan kaum perempuan agar mempunyai hak yang sama dan sejajar dengan kaum pria. Pada bulan April tokoh ini kembali diangkat sembari terus mendorong perempuan Indonesia untuk menempati posisi – posisi yang biasanya didominasi oleh pria. Bagai gayung bersambut, kaum perempuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=10&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://ardextro.files.wordpress.com/2008/04/kartini.jpg?w=90&#038;h=98" alt="" width="90" height="98" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Aktivis perempuan sudah menobatkan R.A. Kartini sebagai pejuang emansipasi. Dia digambarkan sebagai sosok yang bersemangat memperjuangkan kaum perempuan agar mempunyai hak yang sama dan sejajar dengan kaum pria. Pada bulan April tokoh ini kembali diangkat sembari terus mendorong perempuan Indonesia untuk menempati posisi – posisi yang biasanya didominasi oleh pria. Bagai gayung bersambut, kaum perempuan Indonesia pun bergegas mencari peluang karir setinggi – tingginya, tanpa peduli harus mengorbankan keluarga maupun harga dirinya. Benarkah semua ini sejalan dengan perjuangan Kartini ?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span id="more-10"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Agaknya kesimpulan ini terlalu terburu-buru. Mengenal Kartini salah satunya dengan membaca kumpulan surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda. Dalam buku ini tampak bahwa Kartini adalah sosok yang berani menentang adat istiadat yang kuat di lingkungannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Dia menganggap setiap manusia sederajat, sehingga tidak seharusnya adat istiadat membedakan berdasarkan asal usul keturunannya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun setelah sedikit mengenal Islam, Kartini justru mengkritik peradaban masyarakan Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Dalam suratnya, Kartini meminta kepada pemerintah Hindia Belanda memperhatikan nasib pribumi dengan menyelenggarakan pendidikan. Ia mengungkapkan hal yang sama kepada sahabat-sahabatnya, terutama pendidikan bagi kaum perempuan yang membentuk budi pekerti anak. Berulang-ulang Kartini menyebut perempuan adalah istri dan pendidik anak yang pertama-tama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Dia memaksudkan keinginannya mengusahakan pendidikan dan pengajaran agar perempuan lebih cakap dalam menjalankan kewajibannya dan tidak bermaksud menjadikan anak-anak perempuan menjadi saingan laki-laki. Tidak ada keinginan Kartini untuk mengejar persamaan hak dengan laki-laki dan meninggalkan perannya dalam rumah tanggal. Bahkan ketika ia menikah dengan seorang duda yang memiliki banyak anak, Kartini sangat menikmati tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak suaminya. Inilah yang membuat Stellah, sahabatnya, heran mengapat Kartini rela menikah dan menjalani kehidupan rumah tangganya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Kini jelas apa yang diperjuangkan aktivis gender dengan mendorong perempuan meraih kebebasan da meninggalkan rumah tangganya bukanlah perjuangan Kartini. Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai kepentingan mereka. Kaum muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan dan kesetaraan gender.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Jadi, kaum muslimah saat ini harus kembali pada Islam, menjalankan tugasnya sebagai ibu dan istri sekaligus menyadarkan Muslimah yang lain agar tidak tertipu ide gender yang sejatinya merendahkan martabat mereka, membahayakan generasinya serta menjauhkan dari agamanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">“Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Qur’an dalam bahasa Jawa ? bukankah Al Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia ?” Begitu komentar Kartini ketika bertanya kepada gurunya, Kyai Sholeh Darat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pemikiran Kartini berubah, yang tadinya menganggap Barat (Eropa) sebagai kiblat, lalu menjadikan Islam<span> </span>sebagai landasan dalam pemikirannya. Hal ini setidaknya terlihat dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Okober 1902 yang isinya berbunyi “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu sempurna ? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patus disebut peradaban ?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny. Val Kol, 21 Juli1902 yang isinya, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam patut disukai.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Setelah mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi Al Qur’an, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT, Al Qur’an Surat Al Baqarah 257 : “…. Mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan , “Habis Gelap Terbitlah Terang”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Kartini memiliki cita – cita yang luhur, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan, juga untuk melepaskan diri dari hokum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902, yang isinya , “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami , menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Beberapa surat kartini diatas setidaknya menunjukkan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya, diantaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam, bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis. Wallahu a’lam bi muradih.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right">(Sumber : Buletin Jum’at Madinah No. 011/Rabiul Akhir 1429 H / April 2008)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ardextro.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ardextro.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardextro.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardextro.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardextro.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardextro.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardextro.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardextro.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardextro.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardextro.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardextro.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardextro.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardextro.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardextro.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardextro.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardextro.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=10&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/18/kartini-bukan-pejuang-gender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/63bdd00b0076989e8402f6e6e6e42854?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ardextro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ardextro.files.wordpress.com/2008/04/kartini.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Melihat IP Address komputer local dengan Vb</title>
		<link>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/10/melihat-ip-address-komputer-local-dengan-vb/</link>
		<comments>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/10/melihat-ip-address-komputer-local-dengan-vb/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 10:45:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardextro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Visual Basic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardextro.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Letakkan control winsock di form. Buat satu Commandbutton ketikkan kode berikut : Command1_Click ( ) msgbox winsock1.localip , vbinformation, &#8220;IP Address&#8221; End Sub<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=8&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Letakkan control winsock di form.</p>
<p>Buat satu Commandbutton</p>
<p>ketikkan kode berikut :</p>
<p>Command1_Click ( )</p>
<p>msgbox winsock1.localip , vbinformation, &#8220;IP Address&#8221;</p>
<p>End Sub</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ardextro.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ardextro.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardextro.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardextro.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardextro.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardextro.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardextro.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardextro.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardextro.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardextro.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardextro.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardextro.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardextro.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardextro.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardextro.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardextro.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=8&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/10/melihat-ip-address-komputer-local-dengan-vb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/63bdd00b0076989e8402f6e6e6e42854?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ardextro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melihat MAC ADDRESS komputer local dengan Vb</title>
		<link>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/10/melihat-mac-address-komputer-local-dengan-vb/</link>
		<comments>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/10/melihat-mac-address-komputer-local-dengan-vb/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 10:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardextro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Visual Basic]]></category>
		<category><![CDATA[mac address]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardextro.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[option Explicit Const NCBASTAT As Long = &#38;H33 Public Const NCBNAMSZ As Long = 16 Public Const HEAP_ZERO_MEMORY As Long = &#38;H8 Public Const HEAP_GENERATE_EXCEPTIONS As Long = &#38;H4 Public Const NCBRESET As Long = &#38;H32 Public tmp, tmp1, tmp2, tmp3, tmp4, tmp5, tmp6, tmp7 Public Type NET_CONTROL_BLOCK &#8216;NCB ncb_command As Byte ncb_retcode As Byte [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=7&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>option Explicit</p>
<p>Const NCBASTAT As Long = &amp;H33<br />
Public Const NCBNAMSZ As Long = 16<br />
Public Const HEAP_ZERO_MEMORY As Long = &amp;H8<br />
Public Const HEAP_GENERATE_EXCEPTIONS As Long = &amp;H4<br />
Public Const NCBRESET As Long = &amp;H32<br />
Public tmp, tmp1, tmp2, tmp3, tmp4, tmp5, tmp6, tmp7<br />
Public Type NET_CONTROL_BLOCK &#8216;NCB<br />
ncb_command As Byte<br />
ncb_retcode As Byte<br />
ncb_lsn As Byte<br />
ncb_num As Byte<br />
ncb_buffer As Long<br />
ncb_length As Integer</p>
<p><span id="more-7"></span><br />
ncb_callname As String * NCBNAMSZ<br />
ncb_name As String * NCBNAMSZ<br />
ncb_rto As Byte<br />
ncb_sto As Byte<br />
ncb_post As Long<br />
ncb_lana_num As Byte<br />
ncb_cmd_cplt As Byte<br />
ncb_reserve(9) As Byte &#8216; Reserved, must be 0<br />
ncb_event As Long<br />
End Type</p>
<p>Public Type ADAPTER_STATUS<br />
adapter_address(5) As Byte<br />
rev_major As Byte<br />
reserved0 As Byte<br />
adapter_type As Byte<br />
rev_minor As Byte<br />
duration As Integer<br />
frmr_recv As Integer<br />
frmr_xmit As Integer<br />
iframe_recv_err As Integer<br />
xmit_aborts As Integer<br />
xmit_success As Long<br />
recv_success As Long<br />
iframe_xmit_err As Integer<br />
recv_buff_unavail As Integer<br />
t1_timeouts As Integer<br />
ti_timeouts As Integer<br />
Reserved1 As Long<br />
free_ncbs As Integer<br />
max_cfg_ncbs As Integer<br />
max_ncbs As Integer<br />
xmit_buf_unavail As Integer<br />
max_dgram_size As Integer<br />
pending_sess As Integer<br />
max_cfg_sess As Integer<br />
max_sess As Integer<br />
max_sess_pkt_size As Integer<br />
name_count As Integer<br />
End Type</p>
<p>Public Type NAME_BUFFER<br />
name As String * NCBNAMSZ</p>
<p>name_num As Integer<br />
name_flags As Integer<br />
End Type</p>
<p>Public Type ASTAT<br />
adapt As ADAPTER_STATUS<br />
NameBuff(30) As NAME_BUFFER<br />
End Type</p>
<p>Public Declare Function Netbios Lib &#8220;netapi32.dll&#8221; _<br />
(pncb As NET_CONTROL_BLOCK) As Byte</p>
<p>Public Declare Sub CopyMemory Lib &#8220;kernel32&#8243; Alias &#8220;RtlMoveMemory&#8221; _<br />
(hpvDest As Any, ByVal _<br />
hpvSource As Long, ByVal _<br />
cbCopy As Long)</p>
<p>Public Declare Function GetProcessHeap Lib &#8220;kernel32&#8243; () As Long<br />
Public Declare Function HeapAlloc Lib &#8220;kernel32&#8243; _<br />
(ByVal hHeap As Long, ByVal dwFlags As Long, _<br />
ByVal dwBytes As Long) As Long</p>
<p>Public Declare Function HeapFree Lib &#8220;kernel32&#8243; _<br />
(ByVal hHeap As Long, _<br />
ByVal dwFlags As Long, _<br />
lpMem As Any) As Long</p>
<p>Public Function GetMACAddress() As String &#8216;retrieve the MAC Address for the network controller<br />
&#8216;installed, returning a formatted string</p>
<p>Dim tmp As String<br />
Dim pASTAT As Long<br />
Dim NCB As NET_CONTROL_BLOCK<br />
Dim AST As ASTAT &#8216;The IBM NetBIOS 3.0 specifications defines four basic<br />
&#8216;NetBIOS environments under the NCBRESET command. Win32<br />
&#8216;follows the OS/2 Dynamic Link Routine (DLR) environment.<br />
&#8216;This means that the first NCB issued by an application<br />
&#8216;must be a NCBRESET, with the exception of NCBENUM.<br />
&#8216;The Windows NT implementation differs from the IBM<br />
&#8216;NetBIOS 3.0 specifications in the NCB_CALLNAME field.<br />
NCB.ncb_command = NCBRESET<br />
Call Netbios(NCB)</p>
<p>&#8216;To get the Media Access Control (MAC) address for an<br />
&#8216;ethernet adapter programmatically, use the Netbios()<br />
&#8216;NCBASTAT command and provide a &#8220;*&#8221; as the name in the<br />
&#8216;NCB.ncb_CallName field (in a 16-chr string).<br />
NCB.ncb_callname = &#8220;* &#8220;<br />
NCB.ncb_command = NCBASTAT</p>
<p>&#8216;For machines with multiple network adapters you need to<br />
&#8216;enumerate the LANA numbers and perform the NCBASTAT<br />
&#8216;command on each. Even when you have a single network<br />
&#8216;adapter, it is a good idea to enumerate valid LANA numbers<br />
&#8216;first and perform the NCBASTAT on one of the valid LANA<br />
&#8216;numbers. It is considered bad programming to hardcode the<br />
&#8216;LANA number to 0 (see the comments section below).<br />
NCB.ncb_lana_num = 0<br />
NCB.ncb_length = Len(AST)</p>
<p>pASTAT = HeapAlloc(GetProcessHeap(), HEAP_GENERATE_EXCEPTIONS _<br />
Or HEAP_ZERO_MEMORY, NCB.ncb_length)</p>
<p>If pASTAT = 0 Then<br />
Debug.Print &#8220;memory allocation failed!&#8221;<br />
Exit Function<br />
End If</p>
<p>NCB.ncb_buffer = pASTAT<br />
Call Netbios(NCB)</p>
<p>CopyMemory AST, NCB.ncb_buffer, Len(AST)</p>
<p>tmp1 = Format$(Hex(AST.adapt.adapter_address(0)), &#8220;00&#8243;) &amp; &#8221; &#8220;<br />
tmp2 = Format$(Hex(AST.adapt.adapter_address(1)), &#8220;00&#8243;) &amp; &#8221; &#8220;<br />
tmp3 = Format$(Hex(AST.adapt.adapter_address(2)), &#8220;00&#8243;) &amp; &#8221; &#8220;<br />
tmp4 = Format$(Hex(AST.adapt.adapter_address(3)), &#8220;00&#8243;) &amp; &#8221; &#8220;<br />
tmp5 = Format$(Hex(AST.adapt.adapter_address(4)), &#8220;00&#8243;) &amp; &#8221; &#8220;<br />
tmp6 = Format$(Hex(AST.adapt.adapter_address(5)), &#8220;00&#8243;)<br />
tmp = tmp1 &amp; &#8221; &#8221; &amp; tmp2 &amp; &#8221; &#8221; &amp; tmp3 &amp; &#8221; &#8221; &amp; tmp4 &amp; &#8221; &#8221; &amp; tmp5 &amp; &#8221; &#8221; &amp; tmp6<br />
HeapFree GetProcessHeap(), 0, pASTAT</p>
<p>GetMACAddress = tmp</p>
<p>End Function</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ardextro.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ardextro.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardextro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardextro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardextro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardextro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardextro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardextro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardextro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardextro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardextro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardextro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardextro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardextro.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardextro.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardextro.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=7&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/10/melihat-mac-address-komputer-local-dengan-vb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/63bdd00b0076989e8402f6e6e6e42854?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ardextro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Situs di Block ????</title>
		<link>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/10/situs-di-block/</link>
		<comments>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/10/situs-di-block/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 09:21:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardextro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Block Situs]]></category>
		<category><![CDATA[Youtube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardextro.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Tersenyum saya baca berita tadi pagi. katanya sih youtube dll yg menyebarkan film Fitna di block. Begitu juga hal situs situs porno. wah &#8230;&#8230;&#8230;. berapa besar ya dana yg dikeluarkan pemerintah untuk project ini ? Apakah pemblokiran situs situs tertentu itu efektif &#8230;&#8230;.. ???????? Jangan panik dehhhhhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Sebenarnya sih banyak cara untuk bisa mengakses situs [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=5&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tersenyum saya baca berita tadi pagi. katanya sih youtube dll yg menyebarkan film Fitna di block. Begitu juga hal situs situs porno.</p>
<p>wah &#8230;&#8230;&#8230;. berapa besar ya dana yg dikeluarkan pemerintah untuk project ini ?</p>
<p>Apakah pemblokiran situs situs tertentu itu efektif &#8230;&#8230;.. ????????</p>
<p>Jangan panik dehhhhhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Sebenarnya sih banyak cara untuk bisa mengakses situs &#8211; situs yg di block tersebut <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Gak berani ah &#8230;. jelasin nya, ntar saya terjerat UU ITE hehehe</p>
<p>Bagi yang ingin tahu, japri aja via ym &#8220;ardextro&#8221; ato via email : ardextro@yahoo.co.uk</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ardextro.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ardextro.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardextro.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardextro.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardextro.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardextro.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardextro.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardextro.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardextro.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardextro.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardextro.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardextro.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardextro.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardextro.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardextro.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardextro.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=5&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/10/situs-di-block/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/63bdd00b0076989e8402f6e6e6e42854?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ardextro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang</title>
		<link>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/08/selamat-datang/</link>
		<comments>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/08/selamat-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 11:03:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardextro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ardextro.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wr. wb Saya lagi belajar ngeblog nih. Harap dimaklumi kalo banyak kekurangannya. Walaupun kata si Roy Suryo &#8220;Ngeblog adalah Trend sesaat&#8221;, itu gak menghalangi saya untuk mencoba buat blog. Karena selama ini yg saya lihat, banyak sekali dampak positif yg saya terima dari para blogger. Ternyata banyak ide &#8211; ide para blogger yg berguna [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=4&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum wr. wb</p>
<p>Saya lagi belajar ngeblog nih.</p>
<p>Harap dimaklumi kalo banyak kekurangannya.</p>
<p>Walaupun kata si Roy Suryo &#8220;Ngeblog adalah Trend sesaat&#8221;, itu gak menghalangi saya untuk mencoba buat blog. Karena selama ini yg saya lihat, banyak sekali dampak positif yg saya terima dari para blogger. Ternyata banyak ide &#8211; ide para blogger yg berguna sehingga saya merasa sangat terbantu. Hidup Blogger !!!!!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ardextro.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ardextro.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ardextro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ardextro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ardextro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ardextro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ardextro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ardextro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ardextro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ardextro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ardextro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ardextro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ardextro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ardextro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ardextro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ardextro.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ardextro.wordpress.com&amp;blog=1670709&amp;post=4&amp;subd=ardextro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ardextro.wordpress.com/2008/04/08/selamat-datang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/63bdd00b0076989e8402f6e6e6e42854?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ardextro</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
